Evolusi Ponsel Lipat: Era Komunikator Nokia ke Samsung Fold

55 views
Evolusi Ponsel Lipat: Era Komunikator Nokia ke Samsung FoldIlustrasi ponsel lipat. (Dok. Microsoft).

INSPIRASIPUBLIK.COM – Rancangan perangkat ponsel lipat saat ini sedang menjamur di industri ponsel dunia. Tak banyak yang tahu, ponsel lipat diawali oleh kemunculan perangkat komunikator yang dirilis Nokia.

Perangkat ponsel keluaran perusahaan Finlandia itu sempat digandrungi pada era 2000-an. Di Indonesia, Nokia Komunikator yang berbasis Android itu menjadi gadget yang eksklusif dan dipakai oleh berbagai kalangan atas, mulai dari pengusaha hingga pejabat. Namun semakin lama menjadi perangkat yang inklusif dimiliki banyak orang.

Kala itu, ponsel dilengkapi dengan sejumlah fitur pendukung bisnis seperti browser, e-mail bahkan fax.

Nokia Communicator didesain seperti sebuah laptop mini dengan tombol QWERTY mirip ponsel lipat jaman ‘now’. Namun dari segi tampilan layar jauh lebih canggih karena sudah menerapkan layar sentuh atau touch screen.

Nokia Komunikator pertama kali diluncurkan tahun 1996 yakni Nokia 9000 Communicator. Kemudian tahun 1998, perusahaan kembali merilis Nokia 9110 Communicator.

Dua tahun berselang, Nokia 9210 Communicator menjadi primadona baru. Nampaknya Nokia saat itu mengeluarkan ponsel komunikator tiap dua tahun sekali, pada 2002 muncul Nokia 9210i Communicator.

Lalu disusul Nokia 9500 Communicator, Nokia 9300, Nokia 9300i, dan Nokia E90 Communicator.

Samsung Electronics Debutkan HP Lipat Modern

Seiring berjalannya waktu, perubahan dari ponsel tombol QWERTY berubah menjadi perangkat full screen atau layar penuh sekaligus layar sentuh.

Samsung Electronics, perusahaan teknologi asal Korea Selatan menjadi pionir ponsel lipat modern. Tahun ini, Samsung Galaxy Fold resmi dipasarkan secara global termasuk di Indonesia.

Sebelumnya, Samsung Galaxy Fold sempat dikritik oleh para penggiat gadget dan jurnalis karena layar ponsel rentan retak saat lipatannya dibuka.

Oleh sebab itu, perusahaan menunda beberapa perilisan ponsel hingga akhirnya untuk pertama kali diperjualbelikan di Korea Selatan pada September 2019.

Di Indonesia, Samsung Galaxy Fold dibanderol Rp30,8 juta. Sebelum dijual di Tanah Air, pre-order sudah mulai dilakukan sejak 26 November melalui situs www.galaxylaunchpack.com.

Menyoal spesifikasi singkat Galaxy Fold, ponsel ini memiliki layar utama saat ponsel dibuka berukuran 7,3 inci QXGA+ Dynamic AMOLED berlapis polimer yang dapat dilipat berkat teknologi Infinity Flex Display. Sedangkan layar depannya berukuran 4,6 inci HD+ Super AMOLED.

Beralih ke sisi kamera, Samsung menyematkan enam kamera (hexa camera) yang terdiri dari tiga kamera belakang dengan sensor kamera 16MP+12MP+12MP, dua kamera di bagian dalam 10MP+8MP, dan satu di bagian depan ponsel sebesar 10MP.

Ponsel lipat pertama Samsung ini diperkuat prosesor Qualcomm Snapdragon 855 7nm 64-bit Octa-core generasi terbaru. Kapasitas memori RAM 12GB+512GB serta baterai 4.380 mAh dan didukung teknologi pengisian cepat.

Motorola Desain Ulang Ponsel Lipat RAZR

Vendor ponsel asal Amerika, Motorola juga memeriahkan persaingan ponsel lipat. Pasalnya, perusahaan merancang ulang perangkat ponsel ‘jadul’ mereka yakni Motorola RAZR V3 yang dirilis 2004 silam, menjadi RAZR V4.

Motorola RAZR V4 ‘reborn’ dibanderol perusahaan seharga US$1,499 atau sekitar Rp21 juta (US$1 = Rp14,072) dan mulai dijual di Amerika bulan lalu.

Saat lipatan dibuka, RAZR V4 memiliki layar HD POLED 2.142×876 piksel dengan rasio 21:9. Ponsel didukung prosesor Snapdragon 710. Guna meminimalisir agar ponsel tidak cepat panas dan hemat baterai, prosesor Qualcomm itu berukuran 7 nanometer.

Sayangnya, kapasitas baterai yang ditawarkan terbilang kecil karena perusahaan hanya menyematkan 2.510 mAh dan pengisian daya cepat 15 watt TurboPower. Meski begitu, perusahaan mengklaim baterai tahan lama.

Huawei dan Xiaomi tak mau ketinggalan membuat ponsel lipat. Xiaomi dikabarkan sudah mendaftarkan paten yang disebut mirip Motorola RAZR V4.

Paten Xiaomi itu tercatat di Administrasi Kekayaan Intelektual Nasional China (CNIPA) tahun 2018. Nantinya, ponsel akan dibekali enam sensor kamera yang terdiri dari empat kamera belakang dan dua kamera depan.

Sementara Huawei, meskipun sempat menggemborkan ponsel lipat Huawei Mate X di ajang Mobile World Congress 2019 di Barcelona, namun belum ada tanda-tanda perangkat akan dijual resmi ke publik.

Walaupun bukan produk ponsel, tetapi Microsoft perangkat tablet ini sepintas mirip Samsung Galaxy Fold yang menampilkan dua sisi layar. Perusahaan mengklaim tidak mengikuti kategori perangkat yang sudah ada namun hendak menciptakan kategori baru.

Surface Duo memiliki dua layar terpisah dengan masing-masing berukuran 5,6 inci dan 8 inici ketika tidak dilipat.

[Gambas:Video CNN]Untuk pertama kalinya, Microsoft juga menggunakan sistem operasi Android pada Surface Duo. Perangkat ini didukung dengan prosesor Snapdragon 855.

Meskipun tidak mau dikategorikan sebagai ponsel, namun Surface Duo tetap bisa melakukan panggilan telepon.

Sementara Surface Neo, masing-masing bentang layar memiliki ukuran 5,6 inci dan 8,3 inci.

Selain bisa dipakai sebagai laptop, Surface Neo juga bisa berfungsi sebagai tablet yang bisa diputar hingga 360 derajat. Neo menggunakan sistem operasi Windows 10x.

Demikian berita ini dikutip dari CNNINDONESIA.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *