Disbun Way Kanan Lakukan Pembinaan dan Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos

7

WAYKANAN, (IP) – Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Way Kanan, Arifin yang diwakili oleh Kepala Bidang(Kabid)Bina Usaha, Rohim,Kabid Prasarana dan Sarana,didampingi Rina Eka Wati, seluruh Kasi Bidang Bina Usaha bersama Tenaga Pendamping Dinas Perkebunan(Disbun) Kecamatan Gunung Labuhan. Pemberdayaan pada Kelompok Mitra Tani Mandiri, melakukan Pembinaan dan Pelatihan pembuatan Pupuk Kompos, bertempat di Kampung Sukarame Kecamatan Gunung Labuhan, Senin (22/11/2021).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Koordinator Penyuluh (Korluh), didampingi Petugas Pendamping Lapangan (PPL) Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Peternakan (TPHP) dan Poktan Mitra Tani Mandiri.

Dalam kesempatan ini, Kabid Bina Usaha, Rohim menyampaikan, penggunaan Pupuk Anorganik diyakini dapat meningkatkan produktifitas tanaman, namun penggunaan dalam jangka panjang dapat menurunkan kesuburan tanah. Salah satu usaha untuk mengurangi penggunaan Pupuk Anorganik yaitu dengan pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan untuk dijadikan Pupuk Kompos.

Bahan yang dipergunakan untuk pembuatan Pupuk Kompos di Kampung Sukarame sangat memadai, salahsatunya limbah kulit Kopi dan selama ini tidak pernah dimanfaatkan untuk dijadikan Pupuk Kompos, sehingga dapat mengurangi penggunaan Pupuk Anorganik.

“Kami disini ingin dibimbing dan dibina dalam proses pembuatan Pupuk Kompos tersebut”, ungkap Ketua Poktan Mitra Tani Mandiri.

Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian pemberian materi dan informasi, mengenai tehnis, bahan-bahan, tata cara pembuatan serta membimbing dalam praktek oleh Syamsuri. Pemberian materi pupuk organik sangat penting artinya untuk lebih cepat penguasaan konsep organik tersebut, sehingga ketika diberikan praktek pembuatan pupuk organik tersebut, petani kan lebih mudah memahami dan bisa mengembangkannya secara mandiri.

Bahan-bahan yang dapat dipergunakan seperti kotoran ternak, limbah kulit kopi hingga batang pohon pisang yang ditebang usai dipanen, yang biasanya dibuang begitu saja.

Caranya, batang pohon pisang dicacah hingga berukuran kecil, sebagai aktivator bisa melarutkan EM-4. Lalu siram merata hingga sampai mencapai kelembaban 60%.Kemudian ditutup menggunakan Terpal. Proses dilakukan pembalikan dengan interval setiap 7 hari sekali selama 24 hari, untuk menyediakan oksigen baru dan penurunan panas yang bisa lebih tinggi dari 65°c. Pada hari ke 24 sampai 28 dilakukan pendinginan dan pematangan baru. Setelah itu pupuk organik siap digunakan.

” Petani diharapkan memiliki ketrampilan mengolah pupuk Kompos mandiri hingga dapat menghasilkan suatu produk pupuk Kompos, apalagi bahan-bahannya mudah didapat dan pembuatannya tidak terlalu sulit “, papar Korluh Gunung Labuhan. (Lia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here