Manajemen Amburadul: Antrean Online RSUD Ryacudu Tak Berlaku, Pasien Merasa Tertipu

Editor

LAMPUNG UTARA (IP) – Manajemen Amburadul, Antrean Online MJKN di RSUD Ryacudu Kotabumi tidak berlaku Alih-alih memberikan kemudahan bagi masyarakat di era digital, sistem pendaftaran online melalui Mobile JKN (MJKN) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ryacudu Kotabumi, Lampung Utara, justru menuai rapor merah.

Fasilitas yang digadang-gadang sebagai solusi antrean panjang ini terkesan hanya menjadi hiasan tanpa fungsi nyata di lapangan. Kekecewaan mendalam dirasakan oleh para pasien dan keluarga yang berharap pada efisiensi waktu.

Pasalnya, nomor antrean yang didapat secara digital tidak berlaku dan kerap diabaikan oleh petugas medis, memaksa pasien kembali ke pola manual yang melelahkan.

Keluhan muncul dari Maria, salah satu keluarga pasien yang merasa tertipu oleh sistem tersebut. Ia mengaku sudah mendaftar jauh-jauh hari agar tidak perlu mengantre lama, namun kenyataannya jauh dari harapan.

“Iya bang, emang beda di sini, enggak kayak rumah sakit lain. Padahal saya sudah daftar online, kok malah enggak dipanggil-panggil,” cetus Maria dengan nada kecewa saat ditemui di lokasi. Rabu (15/4/2026).

Hal senada dialami Ronal. Meski memegang nomor antrean awal dari aplikasi, ia harus gigit jari melihat pasien lain yang datang belakangan justru dilayani lebih dulu.

“Saya dapat antrean nomor 2 di MJKN, tapi ini sudah delapan pasien lewat kok belum dipanggil juga. Apa gunanya daftar online kalau tidak sesuai antrean” keluh Ronal.

Persoalan tak berhenti disitu, saat akan mengambil obat di bagian Farmasi keluarga pasien tercengang karena petugas tidak memberikan plastik sebagai bungkus obat.

Ketika ditanya kepada petugas mereka justru mengatakan jika plastik mahal dan kami tidak dianggarkan.

Menanggapi carut-marut ini, Direktur RSUD Ryacudu Kotabumi, Cholif Paku Alamsyah, tidak membantah adanya kendala tersebut. Ia beralasan bahwa saat ini sistem di internal rumah sakit belum sepenuhnya terkoneksi dengan Mobile JKN.

“Betul, itu sedang kami upayakan agar terkoneksi. Kami telah mendatangkan teknisi, selain kendala sistem adanya masalah lainnya seperti kekurangan petugas,” kata Cholif.

Buruknya layanan antrean digital ini seolah menambah daftar panjang rapor hitam RSUD Ryacudu. Sebagai rumah sakit yang menjadi perhatian pimpinan daerah, kondisi RS ini justru dianggap kian terpuruk.

Beberapa persoalan krusial yang masih membayangi rumah sakit plat merah ini, diantaranya, Krisis Obat-obatan yang sering kosong memaksa masyarakat berpikir dua kali untuk berobat. Kasus kriminal, Hilangnya alat radiologi secara misterius yang hingga kini masih menjadi perbincangan hangat.

Kerap terjadinya keluhan masyarakat tetkait pelayanan di rumah sakit Ryacudu ini, masyarakat menagih janji para pemangku kebijakan di Bumi Ragem Tunas Lampung.

Jika kualitas pelayanan, ketersediaan obat, hingga integrasi teknologi tidak segera dibenahi, maka predikat Rumah Sakit Rujukan Utama bagi RSUD Ryacudu hanyalah “omong doang” (Omdo).

Masyarakat berharap, perbaikan RSUD Ryacudu tidak cukup hanya dengan mendatangkan teknisi atau sekadar janji lisan melainkan diperlukan adanya perombakan birokrasi secara besar-besaran dan evaluasi total terhadap manajemen rumah sakit.

Febri/Verli/Fadli/A.Sandi/Eko/Arrofi/Hasudungan.S.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *